Tips Membuat Anak Lebih Cinta Buku daripada Gadget

Anak Lebih Cinta Buku

Di era teknologi saat ini banyak kebiasaannya yang mulai bergeser. Hampir semua orang sudah memiliki gadget, termasuk anak yang masih duduk di sekolah dasar. Meskipun internet banyak memudahkan kita, namun sudah seharusnya buku tetap memiliki peran penting untuk menambah wawasan anak. Continue Reading →

Solusi Mengatasi Anak Suka Marah

Sehari-hari orangtua selalu beriteraksi dengan anak. Tapi apakah orangtua sudah cukup baik dalam mengenali anaknya? Memiliki anak suka marah bisa menjadi masalah untuk sebuah hubungan ibu dengan anaknya. Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William dan Martha Sears, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredamkan amarah.

Berikut ini bebrapa cara untuk meredamnya. Ketahui tips parenting berikut sebagai solusi mengatasi anak suka marah:

1. Mempelajari hal yang menyebabkan anak marah

Ketahui dengan pasti hal apa yang dapat memicu kemarahannya, apakah dia sedang merasa lapar, bosan,  suasana lingkungan yang tidak mendukung, menginginkan sesuatu atau benda tetapi tidak terpenuhi, atau bisa juga karena sebab lainnya. Dengan mengetahui penyebabnya, maka orangtua dapat mencegah kemarahan anak.

2. Memberikan contoh sikap tenang padanya

ketika anak marah, volume bicaranya akan meninggi dan memancing orangtua untuk membalasnya lebih tinggi. Hindari keadaan ini. Anak mempelajari sesuatu dari apa yang dilihat dan dengarnya, karena itu penting untuk mencontohkan sikap tenang didepannya.

Jika lingkungan disekitarnya suka marah-marah, maka anak akan menganggap bahwa perilaku ini merupakan hal yang wajar. Secara tidak langsung perilaku “pemarah” akan terbentuk pada pribadi anak tersebut. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi orangtua jangan suka memarahi anak saat di depan orang lain. Apalagi pada kesalahan-kesalahn kecil yang diperbuat oleh anak-anak.

3. Ketahui siapa yang sedang marah

Bila orangtua adalah orang yang mudah emosi, maka akan sangat mudah bagi anak untuk memancing kemarahan dan berakhir dengan lomba saling teriak tanpa ada penyelesaian. Karena itu perlu diketahui siapa yang marah agar kondisi tetap terkendali. Jika anak anda sedang mengambeg, maka sebaiknya anda berkepala dingin, sabar dan menghadapi anak anda dengan lembut. Menasihati anak dengan nada keras tidak akan bermanfaat, malah akan menyakiti hatinya, apalagi pada saat anak/balita anda menangis, nasihat yang anda lontarkan tidak akan didengarnya. Sebaiknya menasihati menunggu waktu yang tepat, saat hati dan pikirannya tenang.

4. Usahakan untuk tetap tenang meskipun berada di tempat umum

Sebaiknya orangtua tidak menunjukkan kemarahannya pada anak di depan banyak orang, karena anak akan semakin menunjukkan rasa marahnya. Jadi cobalah untuk menggendong dan membawanya ke tempat yang lebih sepi. Membuatnya tenang, ketika si anak tenang, maka akan mudah kata-kata nasihat anda diserap dan dimengerti olehnya.

Sebaiknya tidak memberikan seluruh nasihat saat anak melakukan kesalahan di depan umum. Ini hanya akan mengintimidasi anak. Waktu terbaik untuk memberikan nasihat kepada anak adalah disaat jiwanya tenang, dan pada keadaan tetamood seperti menjelang tidur dan bangun tidur.

5. Memeluk dan merangkulnya erat

Sebagian besar anak yang kehilangan kontrol akan menjadi lebih tenang saat dipeluk. Pelukan ini tidak akan terlalu mengekangnya, namun tetap memberinya keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan saat sedang marah. Rasa nyaman yang timbul akan membuatnya lebih tenang dan melunak hatinya. Diharapkan Orangtua harus lebih memahami dan berperilaku lembut pada saat anak berperilaku keras. Dengan begitu, anak pun akan lebih mudah diatasi. Dengan memeluk anak, akan membuatnya merasa dimengerti dan dipahami.

6. Menahan diri adalah terapi yang baik

Tunggulah sampai ia tenang sebelum memulai konseling atau mengatasi permasalahannya, karena jika ia masih marah-marah kemungkinan Anda akan terpancing untuk ikut marah. Menasihati anak pada saat dia sedang dalam kondisi tenang, akan lebih diserap dan diterima oleh otaknya, sehingga anak akan menurut/mengerti apa yang disampaikan orangtuanya.  Seperti halnya, saat menyelesaikan suatu masalah, ketika menyelesaikannya dengan kepala dingin, tenang, dan menggunakan pikiran jernih, maka masalah akan dapat lebih mudah terlesaikan dengan solusi yang tepat.

Mengapa Anak Suka Marah?

Setiap anak memang terlahir unik. Perbedaan karakter pada masing-masing anak membuat orang tua belajar mengenai pola pengasuhan atau parenting yang baik. Mengapa orangtua perlu belajar tentang parenting yang baik? Setiap anak terlahir berbeda-beda dan setiap generasi tercipta dengan keadaan yang berbeda pula.

Anak bisa bersikap manis, cengeng atau bisa juga anak suka marah. Menghadapi anak penurut dan bersikap manis mungkin sangat menyenangkan. Tapi tidak selamanya anak kita terus-menerus bisa bersikap manis di setiap waktu. Memang cukup memusingkan bila anak suka marah dan emosinya sedang tidak stabil.

Anak yang sedang marah mungkin saja melakukan hal yang merugikan. Anak yang sedang marah, seringkali menjadi berani untuk melakukan hal diluar kebiasaannya sehari-hari. Anak yang suka marah bahkan bisa merusak dan mengerikan. Pernah ada orangtua bercerita, handphone, kipas angin, camera, dan barang-barang yang ada disekitar anak dibanting dan anak  tiba-tiba anak sulit dikendalikan.

Rasa marah seorang anak bisa timbul akibat banyak sebab. Terkadang orangtua ikut kesal dan merasa direpotkan jika anak suka marah dan mengamuk. Sebenarnya ada hal yang perlu ibu mengerti, mengapa anak suka marah?

1. Anak kecil juga butuh pengakuan
Metta
Kemauan dan keinginannya untuk bisa membuktikan bahwa dirinya bisa sangat besar tertanam pada anak-anak. Mereka ingi cepat menjadi besar sehingga bisa mendapat pengakuan dan dianggap setara oleh lingkungan sekitarnya. Mereka perlu sanjungan dan pujian. Biasanya anak suka marahketika orangtua sudah melarang-larangnya dengan kata “tidak”. Orangtua sering mengaggap si anak belum mampu karena masih terlalu kecil. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya melalui kemarahan. Maka tidak heran kalau anak sering marah-marah kemudian menangis.

2. Tidak seimbang antara kemauan dengan kemampuan

Ketika seorang anak memiliki kengintahuan dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu, tapi seringkali kemampuannya tidak sekuat keinginannya. Keadaan tidak seimbang antara kemauan dan kemampuan biasanya membuat kesal dan anak suka marah. Anak merasa frustasi kemudian menunjukkannya dengan marah-marah.

3. Anak merasa kecewa
sad-children-efek-pilih-kasih-terhadap-anak
Bukan hanya orangtua, anak pun memiliki ekspektasi tentang dirinya dan lingkungannya. Anak adalah pemerhati yang baik. Perilaku orangtua, perilaku kakak dan adiknya, perilaku pengasuh, keluarga, tetangga, teman dan setiap orang yang ada di lingkungannya akan selalu diperhatikan oleh anak.

Bila ekspektasi anak tidak terpenuhi biasanya ia akan memiliki perlawanan. Perlawanan bisa berbentuk pertanyaan. Ketika anak merasa pertanyaan atau keluhannya tidak terjawab dan tidak mendapatkan respon maka anak merasa kecewa. Perasaan kecewa ini bisa membuat anak suka marah. Ketahui solusi mengatasi anak suka marah agar hubungan orangtua dan anak bisa terjalin dengan baik.