Cara Mengajarkan Kasih Sayang Kepada Anak Dengan Cerita Bergambar Hewan

Pola pengasuhan dengan mencontohkan hal dan perbuatan yang baik kepada anak sampai saat ini masih jadi cara paling populer yang diterapkan oleh orangtua. Anak usia 0-5 tahun mampu merekam banyak kejadian dan cerita yang didengarnya. Maka dari itu selain memberi contoh hal yang baik, bercerita juga menjadi hal yang bisa merangsang kemampuan berbahasa anak.

Bagi anak yang berusia 3-7 tahun sangat memerlukan siraman rohani, mengenal kasih sayang, mengenal rasa aman, mengenal orang lain dan lingkungan sekitar. Pola pengasuhan yang tepat sangat diperlukan untuk pertumbuhan anak dimasa awal. Continue Reading →

Penting Mengingatkan Anak Untuk Selektif Dalam Memilih Teman Bermain

Waktu terus berjalan, ada kalanya anak tumbuh dan memasuki usia remaja. Anak akan banyak belajar dari lingkungannya, baik lingkungan keluarga, sekolah dan teman bermainnya. Pada usia remaja, biasanya anak banyak terpengaruh dengan lingkungan bermainnya. Maka itu, penting untuk mengingatkan pintar-pintar dalam memilih teman kepada anak.

Anak yang memasuki usia remaja sudah mengetahui mana yang baik dan buruk untuknya. Lalu apa yang salah pada anak remaja yang berperilaku menyimpang?

Tidak sepenuhnya mereka boleh disalahkan, sebagai orangtua kita bertanggungjawab untuk memberikan pengarahan dan pengasuhan yang benar.  Setelah masuk usia remaja, anak bisa menentukan dengan siapa ia bergaul. Mereka sudah tidak sepenuhnya dalam pengawasan orangtua. Rentan akan pergaulan yang kurang baik dan berperilaku menyimpang.

mengingatkan-anak-untuk-selektif-dalam-memilih-teman

Sejak kecil ajarkan pendidikan agama, sopan santun dan beritahu mana yang baik dan salah. Biasakan dengan mencontohkan bukan hanya sekedar kata-kata. Berikan kenyamanan dengan pola pengasuhan yang baik. Dekatkan diri kita dengan anak dengan cara mengetahui perkembangan mereka. Jadi tak ada salahnya sebagai orantua kita meng-update informasi untuk tahu keadaan terkini. Seperti apa sih trend dikalangan remaja untuk saat ini.

Selektif dalam memilih teman bermain pun bisa orangtua contohkan kepada anak. Misalkan, dengan mengenalkan teman-teman Anda dan memberikan contoh yang baik. Perlihatkan cara bergaul yang baik, seperti cara berpakaian saat berkunjung, memberikan salam di awal pertemuan, waktu berkunjung dan semacamnya. Dengan demikian anak belajar dari kebaikan yang pernah diperlihatkan orangtuanya.

Solusi Mengatasi Anak Suka Marah

Sehari-hari orangtua selalu beriteraksi dengan anak. Tapi apakah orangtua sudah cukup baik dalam mengenali anaknya? Memiliki anak suka marah bisa menjadi masalah untuk sebuah hubungan ibu dengan anaknya. Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William dan Martha Sears, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredamkan amarah.

Berikut ini bebrapa cara untuk meredamnya. Ketahui tips parenting berikut sebagai solusi mengatasi anak suka marah:

1. Mempelajari hal yang menyebabkan anak marah

Ketahui dengan pasti hal apa yang dapat memicu kemarahannya, apakah dia sedang merasa lapar, bosan,  suasana lingkungan yang tidak mendukung, menginginkan sesuatu atau benda tetapi tidak terpenuhi, atau bisa juga karena sebab lainnya. Dengan mengetahui penyebabnya, maka orangtua dapat mencegah kemarahan anak.

2. Memberikan contoh sikap tenang padanya

ketika anak marah, volume bicaranya akan meninggi dan memancing orangtua untuk membalasnya lebih tinggi. Hindari keadaan ini. Anak mempelajari sesuatu dari apa yang dilihat dan dengarnya, karena itu penting untuk mencontohkan sikap tenang didepannya.

Jika lingkungan disekitarnya suka marah-marah, maka anak akan menganggap bahwa perilaku ini merupakan hal yang wajar. Secara tidak langsung perilaku “pemarah” akan terbentuk pada pribadi anak tersebut. Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi orangtua jangan suka memarahi anak saat di depan orang lain. Apalagi pada kesalahan-kesalahn kecil yang diperbuat oleh anak-anak.

3. Ketahui siapa yang sedang marah

Bila orangtua adalah orang yang mudah emosi, maka akan sangat mudah bagi anak untuk memancing kemarahan dan berakhir dengan lomba saling teriak tanpa ada penyelesaian. Karena itu perlu diketahui siapa yang marah agar kondisi tetap terkendali. Jika anak anda sedang mengambeg, maka sebaiknya anda berkepala dingin, sabar dan menghadapi anak anda dengan lembut. Menasihati anak dengan nada keras tidak akan bermanfaat, malah akan menyakiti hatinya, apalagi pada saat anak/balita anda menangis, nasihat yang anda lontarkan tidak akan didengarnya. Sebaiknya menasihati menunggu waktu yang tepat, saat hati dan pikirannya tenang.

4. Usahakan untuk tetap tenang meskipun berada di tempat umum

Sebaiknya orangtua tidak menunjukkan kemarahannya pada anak di depan banyak orang, karena anak akan semakin menunjukkan rasa marahnya. Jadi cobalah untuk menggendong dan membawanya ke tempat yang lebih sepi. Membuatnya tenang, ketika si anak tenang, maka akan mudah kata-kata nasihat anda diserap dan dimengerti olehnya.

Sebaiknya tidak memberikan seluruh nasihat saat anak melakukan kesalahan di depan umum. Ini hanya akan mengintimidasi anak. Waktu terbaik untuk memberikan nasihat kepada anak adalah disaat jiwanya tenang, dan pada keadaan tetamood seperti menjelang tidur dan bangun tidur.

5. Memeluk dan merangkulnya erat

Sebagian besar anak yang kehilangan kontrol akan menjadi lebih tenang saat dipeluk. Pelukan ini tidak akan terlalu mengekangnya, namun tetap memberinya keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan saat sedang marah. Rasa nyaman yang timbul akan membuatnya lebih tenang dan melunak hatinya. Diharapkan Orangtua harus lebih memahami dan berperilaku lembut pada saat anak berperilaku keras. Dengan begitu, anak pun akan lebih mudah diatasi. Dengan memeluk anak, akan membuatnya merasa dimengerti dan dipahami.

6. Menahan diri adalah terapi yang baik

Tunggulah sampai ia tenang sebelum memulai konseling atau mengatasi permasalahannya, karena jika ia masih marah-marah kemungkinan Anda akan terpancing untuk ikut marah. Menasihati anak pada saat dia sedang dalam kondisi tenang, akan lebih diserap dan diterima oleh otaknya, sehingga anak akan menurut/mengerti apa yang disampaikan orangtuanya.  Seperti halnya, saat menyelesaikan suatu masalah, ketika menyelesaikannya dengan kepala dingin, tenang, dan menggunakan pikiran jernih, maka masalah akan dapat lebih mudah terlesaikan dengan solusi yang tepat.

Mengapa Anak Suka Marah?

Setiap anak memang terlahir unik. Perbedaan karakter pada masing-masing anak membuat orang tua belajar mengenai pola pengasuhan atau parenting yang baik. Mengapa orangtua perlu belajar tentang parenting yang baik? Setiap anak terlahir berbeda-beda dan setiap generasi tercipta dengan keadaan yang berbeda pula.

Anak bisa bersikap manis, cengeng atau bisa juga anak suka marah. Menghadapi anak penurut dan bersikap manis mungkin sangat menyenangkan. Tapi tidak selamanya anak kita terus-menerus bisa bersikap manis di setiap waktu. Memang cukup memusingkan bila anak suka marah dan emosinya sedang tidak stabil.

Anak yang sedang marah mungkin saja melakukan hal yang merugikan. Anak yang sedang marah, seringkali menjadi berani untuk melakukan hal diluar kebiasaannya sehari-hari. Anak yang suka marah bahkan bisa merusak dan mengerikan. Pernah ada orangtua bercerita, handphone, kipas angin, camera, dan barang-barang yang ada disekitar anak dibanting dan anak  tiba-tiba anak sulit dikendalikan.

Rasa marah seorang anak bisa timbul akibat banyak sebab. Terkadang orangtua ikut kesal dan merasa direpotkan jika anak suka marah dan mengamuk. Sebenarnya ada hal yang perlu ibu mengerti, mengapa anak suka marah?

1. Anak kecil juga butuh pengakuan
Metta
Kemauan dan keinginannya untuk bisa membuktikan bahwa dirinya bisa sangat besar tertanam pada anak-anak. Mereka ingi cepat menjadi besar sehingga bisa mendapat pengakuan dan dianggap setara oleh lingkungan sekitarnya. Mereka perlu sanjungan dan pujian. Biasanya anak suka marahketika orangtua sudah melarang-larangnya dengan kata “tidak”. Orangtua sering mengaggap si anak belum mampu karena masih terlalu kecil. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya melalui kemarahan. Maka tidak heran kalau anak sering marah-marah kemudian menangis.

2. Tidak seimbang antara kemauan dengan kemampuan

Ketika seorang anak memiliki kengintahuan dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu, tapi seringkali kemampuannya tidak sekuat keinginannya. Keadaan tidak seimbang antara kemauan dan kemampuan biasanya membuat kesal dan anak suka marah. Anak merasa frustasi kemudian menunjukkannya dengan marah-marah.

3. Anak merasa kecewa
sad-children-efek-pilih-kasih-terhadap-anak
Bukan hanya orangtua, anak pun memiliki ekspektasi tentang dirinya dan lingkungannya. Anak adalah pemerhati yang baik. Perilaku orangtua, perilaku kakak dan adiknya, perilaku pengasuh, keluarga, tetangga, teman dan setiap orang yang ada di lingkungannya akan selalu diperhatikan oleh anak.

Bila ekspektasi anak tidak terpenuhi biasanya ia akan memiliki perlawanan. Perlawanan bisa berbentuk pertanyaan. Ketika anak merasa pertanyaan atau keluhannya tidak terjawab dan tidak mendapatkan respon maka anak merasa kecewa. Perasaan kecewa ini bisa membuat anak suka marah. Ketahui solusi mengatasi anak suka marah agar hubungan orangtua dan anak bisa terjalin dengan baik.

10 Peraturan Parenting Untuk Orangtua Sebagai Prinsip Dasar Pola Pengasuhan Anak (Part 2)

Kembali ke Part 1

6. Memelihara kemandirian anak Anda.

Anda harus tahu kapan harus membantu anak dan kapan anak tidak perlu dibantu. Menetapkan batas membantu anak Anda bermanfaat untuk mengembangkan kemandirian anak. Bila kemandirian anak tidak dibangun sejak kecil ia bisa tumbuh sebagai anak yang tergantung pada orang lain bahkan bisa menjadi anak manja.

Tidak selalu mendapat pertolongan dan bantuan dari orangtua, anak bisa berpikir untuk mengarahkan dirinya sendiri. Kemandirian bagi anak merupakan kunci sukses untuk melanjutkan kehidupannya. Anak-anak menganggap kemerdekaan sebagai salah satu kebutuhan, karena itu adalah bagian dari sifat manusia merasa ingin memegang kendali daripada merasa dikendalikan oleh orang lain.

Berikan kepercayaan untuk anak agar bisa mandiri lebih baik daripada selalu membantu anak hingga anak tidak bebar perkreasi dan berpikir, pada satu titik hal seperti ini bisa membuat anak membangkang dan bertolak belakang dengan keinginan orantua.

7. Konsisten.

Aturan jelas penting dalam sebuah rumah tangga. Jika Anda memiliki peraturan yang terus berubah-ubah setiap hari, tentu anak akan merasa bingung dan menganggap Anda sebagai seorang pembohong. Buat aturan hanya sekali. Hal yang paling penting adalah konsisten. Semakin otoritas Anda didasarkan pada kebijaksanaan dan bukan pada kekuasaan, semakin sedikit anak Anda akan menantang itu.

8. Hindari disiplin keras.

Cara menghukum anak yang klasik sengan meberi hukuman fisik merupakan salah satu cara menghukum yang memiliki efek terburuk. Anak-anak yang dipukul, memukul atau menampar lebih rentan untuk berkelahi dengan anak-anak lain. Mereka lebih cenderung menjadi pengganggu dan lebih mungkin untuk menggunakan agresi untuk memecahkan perselisihan dengan orang lain.

Cara untuk menghindari disiplin keras salah satunya dengan mencontohkan kegiatan positif dalam kehidupan Anda kepada anak-anak. Dengan melihat contoh yang baik anak akan lebih mudah meniru. Semakin besar usia anak maka mereka semakin membutuhkan figure orangtua sebagai contoh nilai-nilai postif dalam kehidupan. Hindari disiplin keras merupakan salah satu usaha Anda untuk melakukan pola pengasuhan yang baik.

9. Jelaskan aturan dan keputusan Anda.

Apa yang Anda pahami sebagai orangtua tentunya ada perbedaan dengan anak Anda yang usianya masih sangat muda. Anak terlahir tanpa sebuah pengalaman. Jangan harap mereka akan memaknai segala macam hal sama seperti Anda.

Jelaskan aturan dan keputisan Anda kepada anak. Kalaupun ada teguran, berikan penjelasan mengapa orangtua menegur kesalahan anak. Umumnya saat anak dibawah 12 tahun orangtua perlu melakukan penjelasan secara mendalam, berbeda dengan anak di atas 12 tahun, mereka memerlukan lebih sedikit penjelasan. Pola mikir anak sudah mulai terbentuk. Orangtua hanya perlu melakukan pendampingan dan pemantauan.

10. Perlakukan anak Anda dengan hormat.

Cara terbaik untuk mendapatkan perlakuan hormat dari anak Anda adalah untuk memperlakukan dia dengan hormat. Anda harus memberikan anak Anda courtesies yang sama Anda akan berikan kepada orang lain. Berbicara dengannya sopan. Menghormati pendapatnya. Perhatikan ketika ia berbicara kepada Anda. Perlakukan dia dengan ramah. Cobalah untuk menyenangkan hatinya ketika Anda bisa melakukannya. Anak-anak memperlakukan orang lain dengan cara orang tua mereka memperlakukan mereka. Hubungan Anda dengan anak Anda adalah dasar bagi hubungan anak dengan orang lain.

Sekalipun anak Anda melakukan kesalahan, hindari memberikan sanksi didepan teman-temannya. Jangan berteriak-teriak sambil mengucapkan kata kasar kepada anak di depan orang asing atau di depan teman-temannya. Bila Anda pernah melakukan ini, segeralah meminta maaf kepada anak Anda. Dipermalukan seperti ini merupakan kesalahan orangtua yang banyak dilakukan dan buruknya ini sangat tertanam dalam ingatan anak hingga ia dewasa.

Tidak ada orangtua yang sempurana, yang ada hanyalah orangtua yang ingin melakukan hal terbaik untuk anaknya. Banyak cara untuk melakukan pola pengasuhan yang baik. 10 peraturan untuk orangtua di atas seharusnya bisa dilakukan untuk kebaikan tumbuhu kembang anak secara fisik ataupun mental.

Orangtua yang baik, kata Steinberg, adalah “orangtua yang menumbuhkan psikologis penyesuaian-unsur seperti kejujuran, empati, kemandirian, kebaikan, kerjasama, kontrol diri dan keceriaan.

“Orangtua yang baik adalah orangtua yang membantu anaknya berhasil di sekolah,” ia melanjutkan. “Ini menghalangi anak dari perilaku anti-sosial, kenakalan, dan penggunaan narkoba dan alkohol. Dan orang tua yang baik adalah orang tua yang membantu melindungi anak-anak terhadap perkembangan kecemasan, depresi, gangguan makan dan jenis lain tekanan psikologis.”

Buku-buku lain Steinberg :

Anda dan Remaja Anda: Panduan Orang Tua untuk Abad 10 sampai 20 (HarperCollins, 1997),

Crossing Jalan: Bagaimana Remaja Anak Anda Pemicu Krisis Pernah (Simon & Schuster, 1994),

Beyond Kelas: Mengapa Sekolah Reformasi Telah Gagal dan Orang Tua Apa yang Perlu Atraksi (Simon & Schuster, 1996).

Kembali ke Part 1

10 Peraturan Parenting Untuk Orangtua Sebagai Prinsip Dasar Pola Pengasuhan Anak (Part 1)

Apakah Anda terus-menerus mencari info terbaru tentang parenting untuk memastikan apa yang Anda lalukan semuanya sudah tepat? Anda dapat sedikit relaks, menurut psikolog Universitas, Laurence Steinberg, mengatakan bahwa orangtua yang sempurna itu tidak ada.

Kata Steinberg, “Tapi saya belum pernah bertemu orangtua yang sempurna 100 persen”.  Ada 10 rangkaian prinsip-prinsip dasar parenting yang baik. Hal ini bisa menjadi acuan dalam gaya pola pengasuhan anak yang baik. Steinberg percaya ini bisa menjadi format yang sempurna untuk para orangtua yang sibuk setiap harinya.

“Tidak ada pekerjaan yang lebih penting dalam setiap masyarakat daripada membesarkan anak-anak, dan tidak ada pengaruh yang lebih penting tentang bagaimana anak-anak mengembangkan daripada orangtua mereka.”

Berikut ini adalah gambaran singkat dari 10 Peraturan Parenting Untuk Orangtua Sebagai Prinsip Dasar Pola Pengasuhan Anak yang baik:

1. Apa yang Anda lakukan

Katakan pada diri Anda setiap hari. Bagaimana cara Anda memperlakukan dan menanggapi anak. Anda harus tahu apa yang sedang Anda perbuat terhadap anak Anda dan apa manfaatnya. Selalu bertanya pada diri Anda sendiri: Apa efek akan keputusan saya terhadap anak saya?

2. Anda tidak bisa terlalu mencintai.

Sebagai orangtua tentu kita sangat mencintai anak kita. Tapi sebaiknya Anda tidak perlu menunjukan ekspresi bahwa Anda sangat mencintai anak Anda. Tunjukan sikap sebagai orangtua yang hangat hingga anak menyadari bahwa ada kasih sayang dan cinta antara Anda dengan dirinya, ini sudah cukup dibandingkan menunjukkan sikap yang terlalu mencintai hingga berlebihan. Biasanya sikap berlebihan ditunjukkan pada sikap over protect kemudia pemberian materi yang berlebihan, member harapan dan memanjakan anak.

3. Terlibat dalam kehidupan anak Anda.

Anda sibuk mengajar karir Anda? Anda katakana semua untuk kepentingan anak dan keluarga? Sebagai orangtua tidak bole terlupakan, Anda perlu terlibat langsung dalam kehidupan anak Anda.

Susun kembali jadwal kegiatan Anda, letakkan kehidupan anak sebagai prioritas. Kepentingan anak dan keluarga memang harus benar-benar diperhatikan. Jangan mengeluh ketika Anda mengorbankan kepentingan Anda untuk terlibat dalam kehidupan anak Anda. Beri dukungan baik mental maupun fisik merupakan pola pengasuhan anak yang baik bagi tumbuh kembang anak.

4. Peting untuk beradaptasi agar sesuai dengan kebutuhan anak Anda.

Kebutuhan anak mengalami perubahan pada setiap fase kehidupannya. Sebagai orangtua penting bagi Anda untuk bisa beradaptasi agar sesuai antara apa yang Anda usahakan untuk anak dengan apa yang dibutuhkan anak Anda.

Seiring waktu anak semakin besar, semakin banyak kebutuhan, semakin banyak pertanyaan dan semakin bergejolak di dalam kehidupan pribadinya. Ketahui dengan peka apa yang sedang dibutuhkan dengan anak Anda. Bawa ke posisi dimana anak Anda merasa ia di merdekakan oleh orantuanya.

Bila ada argumentasi antara anak dengan orangtua, ini merupakan hal yang wajar. Hadapi pertanyaan-pertanyaan yang ada dengan memberikan arahan yang tepat.

5. Membentuk dan menetapkan aturan.

Jika Anda tidak mengelola perilaku anak Anda dari anak masih kecil, ia akan memiliki kesulitan untuk belajar bagaimana mengelola dirinya sendiri ketika dia sudah lebih tua dan Anda sudah tidak berada disampingya untuk merawatnya.

Setiap saat, siang atau malam, Anda harus selalu mampu menjawab tiga pertanyaan: Dimana anak saya? Dengan siapa anak saya saat ini? Apa yang sedang anak saya lakukan? Penting untuk membentuk aturan dan menetapkan aturan di dalam sebuah rumah tangga.

Beri arahan agar anak mengetahui bahwa menjawab ketiga pertanyaan tersebut merupakan hal yang sangat penting untuknya. Karena ini merupakan hal yang penting, sekalipun tidak ditanya, anak seharusnya memiliki kesadaran untuk mengabarkan kepada orangtuanya setelah anak mulai dewasa.

Melanjutkan ke Part 2

10 Tips Cara Menjadi Orang Tua Yang Baik Untuk Anak

Menikah dan memiliki anak adalah sebuah pilihan yang menyenangkan sekaligus penuh tantangan. Menjadi orangtua bisa menjadi sukacita, tetapi juga merupakan pekerjaan yang sulit. Tidak ada orangtua yang sempurna. Semua orang bisa membuat kesalahan. Bahkan karena cinta kasih, orang tua terkadang melakukan hal-hal yang mereka tidak inginkan. Maka orangtua sering mengatakan “maaf, ibu tidak bermaksud”, seperti setelah berteriak pada anaknya.

Tapi jika Anda berpikir, Anda mengalami kesulitan mengendalikan diri segera dapatkan bantuan sehingga kekerasan itu tidak dimulai. Parenting adalah pekerjaan paling sulit di bumi karena tidak ada pelatihan sebelumnya atau kualifikasi untuk posisi ini. Sementara semua pekerjaan lain memiliki proses pelatihan atau orientasi. Sebuah pola pengasuhan yang salah atau miskin ilmu akan mengawal anak-anak ke kehidupan yang bermasalah.

Berikut adalah 10 tips cara menjadi orangtua yang baik untuk anak:

1. Pastikan untuk memperingatkan anak-anak Anda saat mereka melakukan kesalahan sebelum mengoreksi.

2. Memastikan untuk memberikan hukuman kepada anak-anak yang mampu dilakukan oleh mereka. Berikan hukuman yang berhubungan dengan apa yang mereka lakukan.

3. Mempertahankan konsistensi dan pemantauan hukuman yang diberikan kepada anak-anak Anda merupakan faktor penting.

4. Hal ini sangat penting, tetap tenang dan mempertahankan nada yang seimbang, suara bahkan pada saat anak Anda melakukan hal yang tidak diinginkan.

5. Ketahui bahwa dalam pikiran anak satu menit terasa seperti satu jam. Jelas ini berbeda dengan orang dewasa.

6. Hal ini sangat penting, untuk menjadi konsisten karena sampai anak berusia 12 tahun, anak masih belum mengerti hal-hal yang di luar dari kebiasaan. Jika Anda tidak konsisten, mereka akan berpikir bahwa Anda adalah seorang pembohong.

7. Tip lain orangtua yang baik adalah menerima perhatian dan pengajaran sebagai disiplin karena membantu anak Anda untuk memiliki perilaku yang baik adalah yang terbaik yang dapat Anda berikan kepada mereka.

8. Jangan mendisiplinkan anak-anak Anda akan hal-hal yang tidak diperlukan.

9. Pengasuhan yang baik membutuhkan pemahaman yang baik antara suami dan istri. Jika Anda tidak setuju dengan hukuman tertentu, Anda jangan mencoba untuk mengambil keputusan sendiri sebelum membicarakan kepada pasangan Anda.

10. Berikan anak kesempatan yang cukup untuk membantu Anda dalam tugas-tugas di mana mereka bisa diajarkan untuk mulai membantu Anda. Mereka akan mulai mendapatkan rasa memiliki dan hubungan keluarga yang baik akan semakin terbangun.

Anak Tantrum

Pengertian tantrum menurut bahasa adalah luapan kemarahan atau kekesalan, dan ini dapat terjadi pada setiap orang. Namun, bahasan tantrum kini manjadi spesifik. Biasanya orang membahas tantrum sebagai luapan emosi atau kekesalan yang dilakukan anak kecil.

Tingkah laku ini biasanya memuncak pada anak berusia 18 bulan hingga 3 tahun. Sebagian anak malah bisa mengalami tantrum hingga usia 6 tahun. Setiap anak kecil yang suka mengalami tantrum bisa berbeda-beda luapan emosinya.

Tantrum bukanlah hal yang harus ditakuti. Ibu hanya perlu memahami dan mengerti keadaan anak. Kadang memang sulit mengetahui apa yang anak maksud, karena sebagian anak memiliki kesulitan untuk memilih cara dalam menyampaikan apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Biasanya tantrum memiliki pencetus. Nah, pencetusnya tidak selalu dari dalam diri si kecil, bisa saja dari si kakak atau malah dari orang dewasa yang ada di sekitar si kecil. Satu hal yang sering terlupakan adalah anak tidak mengalami tantrum saat sendirian. Kalaupun ada, ini sangat jarang.

Pada usia 18 bulan, anak masih memiliki sifat individualistis yang besar. Ketika ibu sangkal keinginannya akan ada perlawanan dari anak. Anak akan menunjukkan bermacam tingkah laku bahkan bisa terlihat arogan dan keras kepala. Anak seperti ini memiliki sikap pembangkang, para psikolog menyebutnya dengan tingkah laku oposisi.

Tantrum merupakan cara yang normal untuk mengeluarkan seluruh perasaan anak. Beberapa hal yang bisa anak lakukan,

  1. Penolakan atas kontrol atau aturan dalam bentuk apapun.
  2. Keinginan untuk mandiri, menunjukkan sikap membangkang menjadi lebih intens.
  3. Berganti-ganti antara kemandirian atau bertingkah manja.
  4. Ingin mengatur sang Ibu dan ingin di atur oleh sang Ibu seperti pakai baju ini, duduk disana, atau jangan dipegang.

Jika Ibu bisa mengikuti dan memberi pengarahan tentang bersikap kepada anak, tantrum akan berhenti pada saat anak berusia 3 tahun. Ibu cukup belajar mengetahui situasi ketika menghadapi anak tantrum. Pengarahan yang tepat dan pola pengasuhan positif  akan membuat anak mengerti mana yang baik dan tidak baik.