Mengapa Anak Suka Marah?

Setiap anak memang terlahir unik. Perbedaan karakter pada masing-masing anak membuat orang tua belajar mengenai pola pengasuhan atau parenting yang baik. Mengapa orangtua perlu belajar tentang parenting yang baik? Setiap anak terlahir berbeda-beda dan setiap generasi tercipta dengan keadaan yang berbeda pula.

Anak bisa bersikap manis, cengeng atau bisa juga anak suka marah. Menghadapi anak penurut dan bersikap manis mungkin sangat menyenangkan. Tapi tidak selamanya anak kita terus-menerus bisa bersikap manis di setiap waktu. Memang cukup memusingkan bila anak suka marah dan emosinya sedang tidak stabil.

Anak yang sedang marah mungkin saja melakukan hal yang merugikan. Anak yang sedang marah, seringkali menjadi berani untuk melakukan hal diluar kebiasaannya sehari-hari. Anak yang suka marah bahkan bisa merusak dan mengerikan. Pernah ada orangtua bercerita, handphone, kipas angin, camera, dan barang-barang yang ada disekitar anak dibanting dan anak  tiba-tiba anak sulit dikendalikan.

Rasa marah seorang anak bisa timbul akibat banyak sebab. Terkadang orangtua ikut kesal dan merasa direpotkan jika anak suka marah dan mengamuk. Sebenarnya ada hal yang perlu ibu mengerti, mengapa anak suka marah?

1. Anak kecil juga butuh pengakuan
Metta
Kemauan dan keinginannya untuk bisa membuktikan bahwa dirinya bisa sangat besar tertanam pada anak-anak. Mereka ingi cepat menjadi besar sehingga bisa mendapat pengakuan dan dianggap setara oleh lingkungan sekitarnya. Mereka perlu sanjungan dan pujian. Biasanya anak suka marahketika orangtua sudah melarang-larangnya dengan kata “tidak”. Orangtua sering mengaggap si anak belum mampu karena masih terlalu kecil. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya melalui kemarahan. Maka tidak heran kalau anak sering marah-marah kemudian menangis.

2. Tidak seimbang antara kemauan dengan kemampuan

Ketika seorang anak memiliki kengintahuan dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu, tapi seringkali kemampuannya tidak sekuat keinginannya. Keadaan tidak seimbang antara kemauan dan kemampuan biasanya membuat kesal dan anak suka marah. Anak merasa frustasi kemudian menunjukkannya dengan marah-marah.

3. Anak merasa kecewa
sad-children-efek-pilih-kasih-terhadap-anak
Bukan hanya orangtua, anak pun memiliki ekspektasi tentang dirinya dan lingkungannya. Anak adalah pemerhati yang baik. Perilaku orangtua, perilaku kakak dan adiknya, perilaku pengasuh, keluarga, tetangga, teman dan setiap orang yang ada di lingkungannya akan selalu diperhatikan oleh anak.

Bila ekspektasi anak tidak terpenuhi biasanya ia akan memiliki perlawanan. Perlawanan bisa berbentuk pertanyaan. Ketika anak merasa pertanyaan atau keluhannya tidak terjawab dan tidak mendapatkan respon maka anak merasa kecewa. Perasaan kecewa ini bisa membuat anak suka marah. Ketahui solusi mengatasi anak suka marah agar hubungan orangtua dan anak bisa terjalin dengan baik.

This post has already been read 734 times!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post Navigation